Kamis, 20 November 2014

Joko kecil selama beberapa malam selalu terbangun dari tidurnya karena mendengar suara-suara berisik dari kamar orang tuanya.

Akhirnya pada suatu pagi, Joko bertanya pada ibunya, "Bu, tiap malam aku dengar suara berisik dari kamar ibu, dan setelah ku-intip, ibu sedang memantul-mantul naik-turun, sambil duduk diatas perut ayah."

Bu RW Mulyadi kaget sekali, tapi dengan tenang dia menjawab, "Oh, itu karena ibu sedang berusaha mengempeskan perut ayah yang buncit."

Joko menjawab, "Hmm, kupikir ibu takkan berhasil."

"Oh, ya? Kenapa begitu, Joko?", tanya bu RW Mulyadi.

"Karena tiap kali ibu pergi belanja ke pasar, Om Jaelani eh Tante Jessica selalu datang dan meniup kembali perut Ayah."


Rabu, 29 Oktober 2014

Pada hari minggu yang cerah, Hanna pergi jalan-jalan ke emoll untuk mencari dompet. Tiba di emoll, Hanna langsung menuju sebuah counter yang memajang dompet-dompet trendy nan cantik elegan.

Sambil melihat-lihat beberapa dompet yang terpajang di etalase :

Hanna : "mbak-mbak, dompet yang cucok warna coklatz itu berapaan yah ?"

SPG : "Itu 500ribu, mas eh mbak..."

Hanna : "owh... cucok banggedz em... bahannya dari kulit apose sich mbak ?"

SPG : "dari kulit uler om... eh mbak..."

Hanna : "Ich rempong dech... trus-trus yang warna merah unyu-unyu itu berapaan ?"

SPG : "Owh... itu 2jutaan mbak..."

Hanna : "aaaihhhh... mehong yah... emang terbuat dari kulit apose sich mbak ?"

SPG : "kulit buaya mbak..."

Hanna : "wow, pantesan... pasti susana yah nyari buayanya... oya mbak, ada dompet cucok yang harganya lima belas rebu gak ?"

SPG : "owh... ada mbak..."

Hanna --kegirangan-- : "wooowww... mandra, mandra... akika mawar dwonk... dari kulit apose mbak ?"

SPG : "dari kulit pisang, mbak !!!" --sambil melengos pergi--

Hanna bengong sendiri dalam sepi...


Jumat, 24 Oktober 2014

Maryadi yang ternyata masih bertahan di kesatuan, akhirnya bergabung dengan pasukan PBB dan ditugaskan ke Afganistan untuk menjaga perdamaian disana.

Posnya ada di sebuah daerah terpencil, di kaki pegunungan yang sunyi.

Meskipun Maryadi pernah menekuni karier sebagai banci, tapi sejatinya, dirinya adalah laki-laki normal yang masih punya hasrat untuk mencari pelampiasan kebutuhan biologis. Sebulan berjalan, Maryadi mencoba menahan diri untuk tidak memenuhi kebutuhan seks-nya. Tapi lama kelamaan akhirnya dia tidak tahan juga.

Karena sudah tidak tahan itulah, akhirnya Maryadi datang menemui koleganya seorang perwira Arab, dan bertanya : "bagaimana caranya kalau saya pengen 'gituan' di daerah terpencil seperti ini ?".

Sambil tersenyum dengan santainya, sang perwira Arabpun menjawab : "Kamu bisa pakai kuda dibelakang markas itu".

Maryadi sempat kaget mendengar jawaban si perwira Arab, terlebih dia ingat Pancasila dan Sapta Marga, maka bertekad ia tak mau melakukan perbuatan nista ini.

Bulan ke dua berjalan, kembali Maryadi diganggu dengan hasratnya lagi. Kali ini Dia datang ke rekannya yang lain, seorang perwira India dan menanyakan hal yang sama. Dari si perwira India, lagi-lagi Maryadi mendapat jawaban yang sama, yaitu : "Kamu bisa pakai kuda di belakang markas itu".

Maryadi terdiam sambil mikir dalam-dalam, pengen rasanya dia melampiaskan hasratnya itu, tapi dia masih tetap ingat Pancasila dan Sapta Marga.

Sampai akhirnya di bulan ketiga, Maryadi kali ini sudah benar-benar tak tahan lagi. Hasratnya udah memuncak keubun-ubun.

Dengan penuh rasa malu, kembali Maryadi mendatangi si perwira Arab dan berbisik kalau dia sudah benar-benar tidak tahan mau 'gituan'

Si Arab mengangguk simpatik dan berkata : "Silahkan pakai kuda itu, ini memang giliranmu".

Nah, karena memang sudah tidak tahan, Maryadipun dengan berjingkat mendatangi si kuda, dan melampiaskan hasratnya di tubuh hewan itu. Lalu dia kembali ke si perwira Arab sambil senyum kecil : "Wah, thank you, saya sudah pakai kudanya, dan saya sekarang sudah merasa plong".

"Ah, tak perlu berterima kasih. Semua orang disini kalau mau ke rumah bordil di bukit itu memang biasanya naik kuda", jawab si Perwira Arab


Jumat, 26 September 2014

Pada suatu siang yang terik, Bu Mulyadi mengantar suaminya Pak RW Mulyadi berobat ke dokter karena "anu"nya bengkak disengat tawon.

Di ruang praktek dokter...

Dokter : "Siapa yang sakit bu ?"

Bu Mulyadi : "Itu dok, suami saya... " sambil menunjuk ke Pak RW Mulyadi.

Dokter : "Suami ibu sakit apa ? koq seperti meringis menahan sakit gitu ?"

Bu Mulyadi : "Iya dok,  anu... 'anu'nya suami saya bengkak disengat tawon waktu tadi pagi ke kebon belakang rumah... Tolong hilangkan rasa sakitnya ya dok, biar dia gak meringis terus seperti itu... kasihan..."

Dokter : "Iya bu, tenang... saya akan coba obati suami ibu, oke..."

"Iya dok, makasih... tapi dok, tolong... jangan hilangkan bengkaknya yaaa... ", kata Bu Mulyadi sambil berbisik

Dokter : "ebuseeeehhhh... teuteup yeeee... "




Senin, 05 Mei 2014

Cerita ini terjadi pada saat Parman si preman kampung masih belum insyaf.

Alkisah, pada suatu siang yang terik, Jeniffer alias Jaelani yang sedang kapok-kapoknya mangkal karena selalu diuber-uber oleh satpol PP dan beralih profesi menjadi pengamen lagi istirahat di warung kopi pojokan pasar. Sambil minum teh botol ia pun mengitung recehan yang udah terkumpul.

Beberapa saat kemudian, datanglah Parman si preman kampung bersama dua orang temannya sesama preman pasar ke warung itu.
Jeniffer mukanya langsung pucat pasi, takut dipalak, takut digebukin atau malah takut dibunuh. Dan biar Parman beserta rombongan premannya gak liat dia, Jeniffer langsung membalikkan badannya membelakangi preman-preman itu.
Sambil gemetaran, Jeniffer masih sempet menguping pembicaraan Parman dan kawan-kawannya.

Parman : "Hari ini gue lagi kesal dan pusing banget !! Bawaannya jadi horny... Bisa-bisa kalau disini ada Kambing, gue perkosa juga habis-habisan...!!!"

Temannya yang ke satu : "Sama nih, gue juga lagi emosi tinggi...!! Tuh Kambing kelar lo perkosa, bakal gue hajar pake tangan gue yang besar ini, sampe sekarat....!!!"

Temannya yang ke 2 : "Kelar lo hajar sampe sekarat, gantian gue yang perk0sa...!!!"

Mendengar pembicaraan itu, Jeniffer langsung membalikkan badannya dan spontan mengeluarkan suara kambing dari mulutnya, "MMBEEEEEEEEKK..."


 

Jumat, 14 Februari 2014

Dikisahkan, jauh-jauh hari pada saat Joko masih kecil --mungkin pada saat masih berusia sekitar 4 atau 5 tahun--, Pak Mulyadi yang waktu itu masih belum menjabat sebagai RW mengadakan perhelatan cukup kecil-kecilan yaitu melaksanakan sunatan anak mereka si Joko.

Sore itu, setelah selesai acara, beberapa tamu yang merupakan tetangga dekat rumah, masih ada yang datang menengok Joko yang baru disunat, termasuk Mak Ijah si penjual sayur.

Mak Ijah :"Mana jeung, anakmu yang baru disunat?" tanya Mak Ijah kepada istrinya Pak Mulyadi

Bu Mulyadi :"Itu mak, di kamar... masuk aja, jangan sungkan-sungkan..."

Dipersilahkan demikian, Mak Ijah pun ngeloyor masuk ke kamar yang dimaksud Bu Mulyadi.

Tak lama kemudian...

Mak Ijah keluar dari kamar dan duduk njemprok deket Bu Mulyadi yang sedang beresin makanan sajian, lalu :"Wah jeung, bentuknya bagus dan rapi rapi ya... mak jadi gemes dech liatnya, tadi mak pegang-pegang langsung bangun... lumayan gede juga ya jeung... :D "

Bu Mulyadi :"Emang mak lihat yang mana?"

Mak Ijah :"Nyang di kasur..."

Bu Mulyadi :"Loh mak, si Joko kan aye simpen di kursi..."

Mak Ijah :"La terus nyang dikasur sapa jeung ???"

Bu Mulyadi :"Itu laki aye maaakkkk... Si Mulyadiiiii..."


Kamis, 13 Februari 2014

Alkisah pada suatu sabtu malam, Mustafa pergi ke rumah Parman. Mustafa bermaksud untuk meminjam motor Parman yang sedianya akan dipakai jalan-jalan keliling kota bermalam mingguan bersama istrinya Sincia Laula Unyu-unyu. Mumpung ada kesempatan untuk bernostalgia mengenang masa-masa pacaran dengan istrinya dulu, demikian pikir Mustafa.

Singkat cerita, Mustafa pun sampai ke kontrakannya Parman, dan mengobrollah mereka.

Mustafa :"Man, pinjem motor lu yah, buat jalan-jalan ama istri guwe, malam mimgguan mumpung anak guwe lagi gak ada..."

Parman :"Ya sana, pake ajah... tuch koncinya gantung di pintu, ini es te en ka-nya jangan sampai lupa utk dibawa ya bro.."

Mustafa :"Oke, makasih ya bro... lu memang temen guwe yang paling baik..."

Parman :"Alah, nyante aja lu bro... udeh, sana buruan ajak istri lu jalan-jalan..."

Mustafa pun langsung pergi membawa motor Parman.

Tapi, setengah jam kemudian, Mustafa balik lagi sambil menuntun motor. Parman yang melihat Mustafa balik lagi sambil menuntun motornya, merasa heran dan bertanya.

Parman :"Kenapa bro, motornya dituntun?"

Mustafa :"Bensinnya abis bro!"

Parman :"Kenapa lu gak beli?"

Mustafa :"Tadi guwe sempet keliling cari eceran lagi tutup bro, terus guwe ke SPBU tapi disana gak jual bensin..."

Parman --dengan ekspresi heran-- :"Apa iya sich SPBU gak jual bensin? Terus mereka jual apaan?"

Mustafa :"SOLAR, PREMIUM sama PERTAMAX"

Parman : ???????###@@????!!!



Kamis, 06 Februari 2014

Kalau yang ini bukan anggota Gank 3 Banci yaaakkk...













sumber gambar : kaskus