Jumat, 26 September 2014

Pada suatu siang yang terik, Bu Mulyadi mengantar suaminya Pak RW Mulyadi berobat ke dokter karena "anu"nya bengkak disengat tawon.

Di ruang praktek dokter...

Dokter : "Siapa yang sakit bu ?"

Bu Mulyadi : "Itu dok, suami saya... " sambil menunjuk ke Pak RW Mulyadi.

Dokter : "Suami ibu sakit apa ? koq seperti meringis menahan sakit gitu ?"

Bu Mulyadi : "Iya dok,  anu... 'anu'nya suami saya bengkak disengat tawon waktu tadi pagi ke kebon belakang rumah... Tolong hilangkan rasa sakitnya ya dok, biar dia gak meringis terus seperti itu... kasihan..."

Dokter : "Iya bu, tenang... saya akan coba obati suami ibu, oke..."

"Iya dok, makasih... tapi dok, tolong... jangan hilangkan bengkaknya yaaa... ", kata Bu Mulyadi sambil berbisik

Dokter : "ebuseeeehhhh... teuteup yeeee... "




Senin, 05 Mei 2014

Cerita ini terjadi pada saat Parman si preman kampung masih belum insyaf.

Alkisah, pada suatu siang yang terik, Jeniffer alias Jaelani yang sedang kapok-kapoknya mangkal karena selalu diuber-uber oleh satpol PP dan beralih profesi menjadi pengamen lagi istirahat di warung kopi pojokan pasar. Sambil minum teh botol ia pun mengitung recehan yang udah terkumpul.

Beberapa saat kemudian, datanglah Parman si preman kampung bersama dua orang temannya sesama preman pasar ke warung itu.
Jeniffer mukanya langsung pucat pasi, takut dipalak, takut digebukin atau malah takut dibunuh. Dan biar Parman beserta rombongan premannya gak liat dia, Jeniffer langsung membalikkan badannya membelakangi preman-preman itu.
Sambil gemetaran, Jeniffer masih sempet menguping pembicaraan Parman dan kawan-kawannya.

Parman : "Hari ini gue lagi kesal dan pusing banget !! Bawaannya jadi horny... Bisa-bisa kalau disini ada Kambing, gue perkosa juga habis-habisan...!!!"

Temannya yang ke satu : "Sama nih, gue juga lagi emosi tinggi...!! Tuh Kambing kelar lo perkosa, bakal gue hajar pake tangan gue yang besar ini, sampe sekarat....!!!"

Temannya yang ke 2 : "Kelar lo hajar sampe sekarat, gantian gue yang perk0sa...!!!"

Mendengar pembicaraan itu, Jeniffer langsung membalikkan badannya dan spontan mengeluarkan suara kambing dari mulutnya, "MMBEEEEEEEEKK..."


 

Jumat, 14 Februari 2014

Dikisahkan, jauh-jauh hari pada saat Joko masih kecil --mungkin pada saat masih berusia sekitar 4 atau 5 tahun--, Pak Mulyadi yang waktu itu masih belum menjabat sebagai RW mengadakan perhelatan cukup kecil-kecilan yaitu melaksanakan sunatan anak mereka si Joko.

Sore itu, setelah selesai acara, beberapa tamu yang merupakan tetangga dekat rumah, masih ada yang datang menengok Joko yang baru disunat, termasuk Mak Ijah si penjual sayur.

Mak Ijah :"Mana jeung, anakmu yang baru disunat?" tanya Mak Ijah kepada istrinya Pak Mulyadi

Bu Mulyadi :"Itu mak, di kamar... masuk aja, jangan sungkan-sungkan..."

Dipersilahkan demikian, Mak Ijah pun ngeloyor masuk ke kamar yang dimaksud Bu Mulyadi.

Tak lama kemudian...

Mak Ijah keluar dari kamar dan duduk njemprok deket Bu Mulyadi yang sedang beresin makanan sajian, lalu :"Wah jeung, bentuknya bagus dan rapi rapi ya... mak jadi gemes dech liatnya, tadi mak pegang-pegang langsung bangun... lumayan gede juga ya jeung... :D "

Bu Mulyadi :"Emang mak lihat yang mana?"

Mak Ijah :"Nyang di kasur..."

Bu Mulyadi :"Loh mak, si Joko kan aye simpen di kursi..."

Mak Ijah :"La terus nyang dikasur sapa jeung ???"

Bu Mulyadi :"Itu laki aye maaakkkk... Si Mulyadiiiii..."


Kamis, 13 Februari 2014

Alkisah pada suatu sabtu malam, Mustafa pergi ke rumah Parman. Mustafa bermaksud untuk meminjam motor Parman yang sedianya akan dipakai jalan-jalan keliling kota bermalam mingguan bersama istrinya Sincia Laula Unyu-unyu. Mumpung ada kesempatan untuk bernostalgia mengenang masa-masa pacaran dengan istrinya dulu, demikian pikir Mustafa.

Singkat cerita, Mustafa pun sampai ke kontrakannya Parman, dan mengobrollah mereka.

Mustafa :"Man, pinjem motor lu yah, buat jalan-jalan ama istri guwe, malam mimgguan mumpung anak guwe lagi gak ada..."

Parman :"Ya sana, pake ajah... tuch koncinya gantung di pintu, ini es te en ka-nya jangan sampai lupa utk dibawa ya bro.."

Mustafa :"Oke, makasih ya bro... lu memang temen guwe yang paling baik..."

Parman :"Alah, nyante aja lu bro... udeh, sana buruan ajak istri lu jalan-jalan..."

Mustafa pun langsung pergi membawa motor Parman.

Tapi, setengah jam kemudian, Mustafa balik lagi sambil menuntun motor. Parman yang melihat Mustafa balik lagi sambil menuntun motornya, merasa heran dan bertanya.

Parman :"Kenapa bro, motornya dituntun?"

Mustafa :"Bensinnya abis bro!"

Parman :"Kenapa lu gak beli?"

Mustafa :"Tadi guwe sempet keliling cari eceran lagi tutup bro, terus guwe ke SPBU tapi disana gak jual bensin..."

Parman --dengan ekspresi heran-- :"Apa iya sich SPBU gak jual bensin? Terus mereka jual apaan?"

Mustafa :"SOLAR, PREMIUM sama PERTAMAX"

Parman : ???????###@@????!!!



Kamis, 06 Februari 2014

Kalau yang ini bukan anggota Gank 3 Banci yaaakkk...













sumber gambar : kaskus
Nella si banci tomboy anggotanya Gank 3 Banci sangat ingin mempunyai sepatu dari kulit buaya. Saking sangat inginnya mempunyai sepatu dari kulit buaya tersebut, sampai terbawa-bawa mimpi.

Pada suatu hari yang cerah ceria, Nella pun pergi ke mall untuk melihat-lihat ke toko sepatu dan berencana membeli sepatu dari kulit buaya yang selama ini diidam-idamkannya. Sesampainya di salah satu toko sepatu ternama, Nella sangat kecewa karena ternyata sepatu dari kulit buaya yang selama ini diidam-idamkannya harganya teramat mahal sekali. Uang Nella belum cukup karena mahalnya sepatu tersebut.

"Koq, maharani bangsa sih cyin sepatunya," kata Nella sambil megang-megang sepatu yang diinginkannya.
"Kalau yey ingin mursidah ya tangkap sana buayanya sendiri..." kata si penjaga toko.

Terinspirasi oleh perkataan si penjaga toko, pada suatu minggu pagi yang cerah, Nella nekad pergi ke rawa-rawa untuk mencari buaya  sambil membawa senjata api. Pokoknya Nella si banci tomboy betul-betul macho hari itu.

Secara kebetulan, beberapa saat kemudian, si penjaga toko sepatu datang juga ke rawa-rawa tersebut entah mau apa.

Si penjaga toko terkagum-kagum ketika melihat tiga ekor buaya ditumpuk di rawa-rawa.

Sementara itu Nella terlihat berada di tengah rawa sedang membidikkan senjatanya ke seekor buaya yang lainnya. Suara tembakan terdengar, kemudian Nella pun menyeret buaya keempat yang baru ditembaknya ke pinggir.

Dan, tak lama kemudian Nella terdengar berteriak dengan penuh kekesalan... "SIALAN !!! YANG INI JUGA TIDAK MEMAKAI SEPATU..."


Selasa, 21 Januari 2014

Sincia Laula unyu-unyu kedatangan salah satu keponakannya Mustofa dari kampung yang sedang liburan ke Jakarta. Seorang pemuda berumur sekitar 20 tahunan yang bernama Imron. Imron, salah satu keponakan Mustofa yang cukup beruntung. Dia beruntung dijadikan anak asuh oleh salah satu keluarga terpandang dikampungnya, disekolahkan hingga bisa kuliah dan dirawat dengan. Di bawah perawatan keluarga terpandang tersebut, Imron tumbuh menjadi seorang pemuda yang cukup tampan dan berpenampilan baik.

Secara kebetulan, liburan kali ini, Mustofa mendapat order untuk nganter tamu jalan-jalan ke Yogyakarta. Sementara anak perempuan mereka yang masih kecil juga sedang dititipkan ke orang-tuanya Sincia di ciamis sana. Sehingga otomatis yang ada di rumah tinggal Sincia sendiri.

Sincia laula unyu-unyu meskipun memang sudah bersuamikan Mustofa dan mempunyai seorang putri, tapi kecantikan dan kemontokan bodynya belum luntur yang akan membuat semua mata lelaki normal tak akan pernah lepas pendangannya ketika melihat kebohayan body Sincia.

Nah, karena Mustofa sedang dinas luar kota, maka di rumah itu tinggallah Imron dengan Sincia.

Malam itu, cuaca sangat tidak bersahabat. Hujan deras dengan cahaya petir yang berkilat-kilat. Imron masuk kerumah dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan. Kaos putihnya jadi transparan memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhku dan perutnya yang sixpack. Imron memang rajin berolahraga membentuk tubuh, hingga badannya terbentuk dengan bagus dan banyak yang memujinya. Imron cukup bangga dengan hal tersebut.

Pas waktu Imron masuk rumah dalam keadaan basah kuyup, di ruang tamu ternyata ada Sincia yang lagi duduk sambil nonton tv, Sincia saat itu cuma memakai daster yang tipis dengan belahan dada yang rendah.



Melihat kedatangan Imron dengan keadaan basah kuyup dan baju putih transparan yang mencetak memperlihatkan tubuhnya yang tegap Sincia beberapa kali melirik ke arah Imron. Sepertinya dia tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.

Sincia beanjak dari satu-satunya sofa yang ada di kamar tamu kecil tersebut lalu berdiri dan menghampiri Imron, dan "Cepet kamu ganti baju, nanti kamu sakit lochh..." kata Sincia dengan halus...  Tatapan matanya membuat Imron merasa seperti lain. SEERRR...darah Imron serasa mendidih melihat belahan dada Sincia yang ranum.

Lalu Imron masuk ke kamar dan melepaskan semua pakaiannya. Pada saat Imron melepaskan pakaiannya tersebut, tiba-tiba Sincia masuk dan melihat Imron yang hanya ber'celana-dalam'  saja dengan tatapan mata yang dalam dan penuh arti, ditangannya membawa segelas susu panas.

Pelan-pelan Sincia mendekati Imron...
dan tiba-tiba...
.
.
.
.
.
.
.
.
BYUUURRRR...

Sincia terpeleset dan susu panas digelas menyiram wajah Imron, sontak Imronpun berteriak kepanasan...

--SEKIAN--


Selasa, 07 Januari 2014

Pada suatu pagi nan cerah ceria, Jeniffer alias Junaedi pergi ke kantor kecamatan untuk memperpanjang katepe-nya yang sudah mau expired. Sebagai warga negara yang taat peraturan serta baik hati dan tidak sombong, Jeniffer berpikir harus punya kartu identitas, walaupun sering bingung juga untuk mencantumkan jenis kelamin pada saat ngisi form, apakah harus isi L, P atau garis miring? Terus Jeniffer juga berpikir, kemaren aja punya kartu identitas masih sering di uber-uber bapak satpol pp, la gimana nanti kalau gak punya? Nha, untuk urusan uber-uberan dengan satpol pp ini, Jeniffer kadang sering heran juga. Lo koq demen banget ya, itu bapak-bapak satpol pp ngejar-ngejar dirinya. Apakah dirinya sebegitu menariknya kah, hingga tu bapak-bapak satpol pp gak bosan-bosannya nguber-nguber dia kalao pas lagi mangkal?

Singkat cerita, Jeniffer pun sampai di kantor kecamatan dan di bagian administrasi kependudukan, dia dilayani dengan baik oleh bapak-bapak petugas yang dilihat dari banned namanya bernama Ridwan. Dan percakapan pun dimulai :

Ridwan : "Nama Anda siapa?"
Jeniffer : "Nama asli atau nama panggung pak?"
Ridwan : "Nama asli lah..!"
Jeniffer --dengan tersipu malu-- : "Jujun pak..."
Ridwan : "Nama lengkapnya?"
Jeniffer : "Jujun juniarti ananda eka putri prapatan tiga"
Ridwan : "Jawab yang bener mas ! eh mbak !"
Jeniffer --kembali tersipu malu-- : "Junaedi, pak..."
Ridwan : "Tempat, tanggal lahir?"
Jeniffer : "Cicaycuy, pak..."
Ridwan : "Hah, dimana itu ? selama saya kerja disini, belum pernah dengar tuch nama daerah cicaycuy !"
Jeniffer : "Ich bapak kastrol dech... !"
Ridwan : "katro banci ! bukan kastrol !"
Jeniffer : "oh iya itu maksud eyke... masa bapak gak tau cicaycuy sich? itu loh yang deket cibuah..."
Ridwan : "oh itu, cisayur bencong... ! terus tanggal berapa lu lahir?"
Jeniffer : "bapak pengennya tanggal berapa? eyke ngikut bapak aja dwech..."
Ridwan : "jangan main-main banci ! jawab yang bener !"
Jeniffer ; "tanggal sepelong janwerong sembelong belas tujuh delepong"
Ridwan : "Woy ! jawab yang bener ! dasar bencong rempong, guwe cincong eh cincang lu !"
Jeniffer : "ich koq bapak tau rempong ? jangan-jangan... jangan-jangan..."
Ridwan : "Awas lo ya.. jangan ngada-ngada ! ya tau donk dari anak guwe ! udah jangan bahas itu ! yang bener tanggal lahir lu berapa?"
Jeniffer : " tanggal 10 januari 1978, pak"
Ridwan : "Jenis kelamin?"
Jeniffer : "eeeemmmm... isi apa ya pak? sutra dah isi ferempuan aja ya pak !" --sambil ngedipin pak Ridwan--
Ridwan : "Hah !! lu yakin lu perempuan ??"
Jeniffer : "ich bapak rumpi dech !! apa bapak gak lihat penampilan eyke yang cantik membahana seperti bidadari baru turun dari bajaj ? bapak mau lihat untuk membuktikan kalau eyke feremfuan?"
Ridwan : "udah... udah... gak usah ! Status ?"
Jeniffer --dengan tersipu malu-- : "janda pak... "
Ridwan : "Haaahh... lu pernah bersuami ? siapa laki-laki yang kurang waras yang berani ngawinin lu ?"
Jeniffer : "ich bapak gitu dech ! bukannya bapak yang dulu ngawinin eyke di pematang sawah, terus setelah keperawanan eyke lenyap bapak renggut, dengan mudahnya bapak menceraikan eyke lewat es'em'es..."
Ridwan : "eh semprol lu... lama-lama guwe bacok juga lu..."
Jeniffer : "ich bapak jengong galak-galak ! eyke jadi tatut dech..."
Ridwan : "Pekerjaan lu apa ?"
Jeniffer : "eyke anggota BNN pak !"
Ridwan : "hah !!! serius lu ??!! masa anggota BNN bentuknya kayak gini !"
Jeniffer : "ich bapak sembarangan dwech... itu loh BNN itu singkatan dari Banci Narsis Nan-imutz"
Ridwan --geleng-geleng kepala, terus melanjutkan mendata-- : "Kewarga-negaraan?"
Jeniffer : "WNI donk ach pak... tapi gini-gini juga eyke anggota PBB lo pak..."
Ridwan : "Persatuan Bangsa-Bangsa?"
Jeniffer : "Bukan pak, Persatuan Banci-Banci"
Ridwan : "gelo lu..." --sambil tertawa--
Jeniffer : "aduh jadi gemes dweh, kalau lihat bapak ketawa, bapak hepi yah ketemu eyke?"
Ridwan : "najis lu !... udah ! golongan darahmu apa?"
Jeniffer : "golongan orang beriman pak !"
Ridwan : "wooyy !! jawab yang beneeeerrrr !!!"
Jeniffer : "xixixixixixi... golongan darah 'A' pak... A'kyu cinta kamyuuu..."

*dan keyboard komputer pun melayang ke kepala Jeniffer*